Tanggal kajian : 13 Desember 2018
Pemateri : Hardina
Pemateri : Hardina
SISTEM PERNAPASAN MANUSIA
~ Pengertian Sistem Pernapasan
Salah
satu ciri makhluk hidup adalah dengan bernapas, semua makhluk hidup melakukan
proses ini, demikian juga manusia. Pernapasan merupakan rangkaian proses sejak
pengambilan udara dan gas. Penggunaannya untuk memecah zat, mengeluarkan gas
yang dihasilkan dari sisa metabolisme, dan memanfaatkan energi yang dihasilkan.
Bernafas adalah kegiatan menghirup udara dan mengeluarkan udara. Udara
mengandung berbagai komponen gas, salah satunya adalah oksigen (O2)
dan karbon dioksida (CO2). Oksigen inilah yang diperlukan oleh
tubuh, oksigen masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan. Selanjutnya, pernapasan
menghasilkan karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan dari dalam
tubuh.
~ Organ pernapasan manusia
Sistem
pernapasan pada manusia meliputi semua struktur yang menghubungkan udara ke dan
dari paru-paru. Organ pernapasan utama berupa paru-paru. Berikut ini adalah
organ-organ yang digunakan dalam pernapasan manusia.
1.
Hidung
Rongga
hidung merupakan tempat yang paling awal dimasuki udara pernapasan. Hidung
merupakan alat pernapasan yang terletak di luar dan tersusun atas tulang rawan.
Hidung terdiri dari lubang hidung, rongga hidung, dan ujung rongga hidup. Sekitar
15.000 liter udara setiap hari akan melewati hidung (Endang dan Idun, 2009:
231). Di dalam rongga hidung, udara
disaring oleh rambut-rambut kecil (silia) dan selaput lendir yang berguna untuk
menyaring debu, melekatkan kotoran pada rambut hidung, mengatur suhu udara pernapasan,
maupun menyelidiki adanya bau.
2.
Laring
Laring
disebut juga pangkal tenggorok atau kotak suara. Bagian sebelah atas laring
disebut faring yang memiliki panjang sekitan ± 4 cm.
Pangkal tenggorok
dapat ditutup oleh katup pangkal tenggorokan (epiglotis) (Purnomo, dkk, 2009:
220). Pada waktu menelan makanan, epiglotis melipat ke bawah menutupi laing
sehingga makanan tidak dapat masuk dalam laring. Sementara, pada saat bernapas
epiglotis akan membuka. Itulah sebabnya saat kita menelan makanan tidak mungkin
bersamaan dengan menghirup udara.
3.
Trakea
Trakea (batang tenggorokan) merupakan pipa yang
panjangnya ± 9 cm. batang tenggorokan atau trakea merupakan pipa yang
dindingnya terdiri atas tiga lapis. Lapis luar terdiri atas jaringan ikat,
lapis tengah terdiri atas otot polos, dan cincin tulang rawan, sedangkan lapis
terdalam terdiri atas jaringan epitel bersilia. Trakea dilapisi oleh selaput
lendir yang dihasilkan oleh epithelium bersilia (Purnomo, dkk, 2009: 220).
Silia-silia ini bergerak ke atas ke arah laring sehingga dengan gerakan ini
debu dan butir-butir halus lainnya yang masuk saat menghirup napas dapat dikeluarkan.
4.
Bronkus
Ujung trakea bercabang menjadi dua bagian
yang disebut bronkus. Apabila pada bagian ini kemasukan debu akibatnya terjadi
penyempitan pada saluran pernapasan sehingga menyebabkan seseorang sukar
bernapas yang menyebabkan seseorang akan bersin jika saluran pernapasan
kemasukan benda asing yang mengganggu pernapasan (Endang dan Idun, 2009: 233).
Bronkus terdiri dari dua percabangan yaitu bronkus kanan dan kiri. Letaknya
juga berbeda bronkus kanan lebih vertical daripada kiri. Karena struktur ini,
sehingga bronkus kanan akan mudah kemasukan benda asing yang menyebabkan
paru-paru kanan lebih mudah terserang penyakit bronkhitis (Endang dan Idun,
2009: 234).
Bronkus sebelah kanan bercabang menjadi tiga bronkiolus, sedangkan
bronkus sebelah kiri bercabang menjadi dua bronkiolus. Pada seseorang yang
menderita asma bagian otot-otot bronkus ini berkontraksi sehingga akan
menyempit. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya lebih banyak benda asing
yang menimbulkan reaksi alergi. Akibatnya penderita akan mengalami sesak napas.
Sedangkan pada penderita bronkitis, bagian bronkus ini akan tersumbat oleh
lendir.
5.
Paru-paru
Paru-paru
manusia berjumlah sepasang, masing-masing dibungkus oleh selaput pembungkus
paru-paru yang disebut pleura. Paru-paru kanan berukuran lebih besar daripada
kiri dan beratnya sekitar 620 gram untuk paru-paru kanan dan 560 gram untuk
paru-paru kiri. Di dalam paru-paru terdapat gelembung halus yang merupakan
perluasan permukaan paru-paru disebut alveolus dan jumlahnya ± 300 juta buah. Alveolus
ini memiliki dinding yang elastik dan banyak mengandung kapiler darah,
disitulah terjadinya pertukaran udara secara proses difusi, oksigen akan diikat
sedangkan CO2 dan air akan dilepaskan. Pada seseorang yang menderita emfisema,
alveolusnya mengalami gangguan kelenturan sehingga sulit untuk mengembang dan
mengempis (Endang dan Idun, 2009: 236).
~ Proses
Pernapasan pada Manusia
Udara dapat masuk dan
keluar paru-paru karena adanya tekanan udara luar dengan udara dalam paru-paru.
Perbedaan tekanan ini disebabkan oleh terjadinya perubahan besar kecilnya
rongga udara, rongga perut dan rongga alveolus. Jalur udara pernapasan pada
manusia untuk menuju sel-sel tubuh adalah rongga hidung-faring(rongga
tekak)-laring-trakea (batang tenggorok)-bronkus-alveolus-sel-sel tubuh
(Purnomo, dkk, 2009: 222). Namun proses pernapasan manusia tidak semudah itu
terdapat mekanisme pertukaran gas O2 dan CO2. Pernapasan
atau pertukaran gas pada manusia berlangsung pada dua tahap yaitu pernapasan
luar (eksternal) dan pernapasan dalam (internal) berikut ini penjelasannya.
1.
Pernapasan
luar (eksternal)
Pernapasan
luar merupakan pertukaran gas dari udara luar atau udara bebas ke dalam sel-sel
darah pada jaringan epitel selaput alveolus (Slamet dan Sri, 2007: 198). Dengan
kata lain, pernapasan luar merupakan pertukaran gas (O2 dan CO2)
antara udara dan darah. Pada pernapasan ini, oksigen dari udara bebas atau luar
berdifusi ke dalam darah kapiler paru-paru. Darah akan masuk ke dalam kapiler
paru-paru yang mengangkut sebagian besar karbon dioksida sebagai ion bikarbonat
(HCO3-) dengan persamaan
reaksi sebagai berikut.
H++ HCO3- H2CO3 H2O + CO2
Reaksi
ini akan dipercepat oleh enzim karbonat
anhidrase yang terdapat di dalam sel-sel darah. Ketika reaksi berlangsung,
hemoglobin melepaskan ion-ion hidrogen yang telah diangkut. HHb menjadi Hb. Hb
adalah singkatan dari haemoglobin, yaitu jenis protein dalam sel darah merah.
Selanjutnya, hemoglobin mengikat oksigen dan menjadi oksihemoglobin (HbO2).
Hb + O2 HbO2
Pertukaran
gas pada alveolus inilah yang dimaksud dengan pernapasan luar. Selama
pernapasan luar, di dalam paru-paru akan terjadi pertukaran gas yaitu CO2 meninggalkan
darah dan O2 masuk ke dalam darah secara difusi.
2.
Pernapasan
dalam (internal)
Pada
pernapasan dalam (pertukaran gas di dalam jaringan tubuh) darah masuk ke dalam
jaringan tubuh, oksigen meninggalkan hemoglobin dan berdifusi masuk ke dalam
cairan jaringan tubuh.
HbO2 Hb + O2
Oksigen dapat dengan
mudah berdifusi ke cairan sel jaringan tubuh karena oksigen yang dikandung
jaringan tubuh secara terus menerus digunakan untuk oksidasi biologis di dalam
sel, sehingga kadar O2 di dalam cairan jaringan tubuh rendah.
Oksidasi biologis di dalam jaringan menyebabkan kadar CO2 di dalam
jaringan tubuh tinggi. Hal inilah yang mempermudah Hb yang telah membebaskan
oksigen untuk mengikat dan mengangkut sebagian CO2 dalam bentuk
karbominohemoglobin. Oksigen dari sel-sel darah keluar dan berdifusi menuju ke
jaringan tubuh, sebaliknya CO2 dari jaringan tubuh berdifusi ke
sel-sel darah. Pertukaran gas ini yang disebut pernapasan dalam.
~Mekanisme
Pernapasan pada Manusia
Berdasarkan
otot yang berperan aktif pada proses pernapasan, pernapasan pada manusia dapat
dibedakan menjadi pernapasan dada dan pernapasan perut.
1.
Pernapasan
Dada
Pernapasan dada terjadi bila otot-otot tulang rusuk luar
berkontraksi, akibatnya tulang rusuk naik dan volume rongga dada akan lebih
kecil daripada udara luar. Karena adanya perbedaan tekanan udara ini, maka
udara luar masuk ke dalam rongga dada, sehingga terjadi proses inspirasi.
Proses ekspirasi terjadi apabila otot antar tulang rusuk dalam
berkontraksi. Akibatnya, tulang rusuk turun dan volume rongga dada mengecil,
sehingga tekanan udara di dalam rongga dada akan lebih besar. Selanjutnya,
udara akan terdorong ke luar.
2.
Pernapasan
Perut
Pada pernapasan perut, fase inspirasi terjadi apabila
otot diafragma (sekat rongga dada) mendatar dan volume rongga dada membesar,
sehingga tekanan udara di dalam rongga dada lebih kecil daripada udara di luar,
akibatnya udara masuk.
Adapun fase ekspirasi terjadi apabila otot-otot
diafragma mengkerut (berkontraksi) dan volume rongga dada mengecil, sehingga
tekanan udara di dalam rongga dada lebih besar daripada udara di luar.
Akibatnya udara dari dalam terdorong ke luar.
~Volume Udara Pernapasan
- Volume Tidal (VT) : Volume udara yang keluar masuk paru-paru sebagai akibat aktivitas pernapasan biasa (500 cc)
- Volume Komplementer (VK) : Volume udara yang masih dapat dimasukkan secara maksimal ke dalam paru-paru setelah inspirasi biasa (1500 cc)
- Volume Suplementer (VS) : Volume udara yang masih dapat dihembuskan secara maksimal dari dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi biasa (1500 cc)
- Volume Residu (VR) : Volume udara yang selalu tersisa di dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi sekuat-kuatnya (1000 cc)
- Kapasitas Vital (KV) : Volume udara yang dapat dihembuskan sekuat-kuatnya setelah melakukan inspirasi sekuat-kuatnya (KV = VT + VK + VS)
- Kapasitas Total (KT) :
Volume total udara yang dapat tertampung di dalam paru-paru (KT= KV+VR)
~Faktor
yang Mempengaruhi Frekuensi Pernapasan Manusia
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
frekuensi pernapasan manusia yaitu sebagai berikut.
1. Umur,
umumnya makin bertambah umur seseorang akan makin rendah frekuensi
pernapasannya. Hal ini berhubungan erat dengan makin berkurangnya proporsi
kebutuhan energinya.
2. Jenis
kelamin, laki-laki pada umumnya lebih banyak bergerak, sehingga lebih banyak
memerlukan energi. Kebutuhan oksigen dan produksi CO2 pada pria juga
lebih tinggi.
3. Suhu
tubuh, semakin tinggi suhu tubuh, semakin cepat frekuensi pernapasannya. Hal
ini berhubungan dengan peningkatan proses metabolisme, sehingga diperlukan
peningkatan pemasukan O2 dan pengeluaran CO2.
4. Posisi
tubuh, erat kaitannya dengan beban yang harus ditanggung oleh organ tubuh.
Orang yang berdiri lebih banyak frekuensi pengambilan O2 karena otot
yang berkontraksi lebih banyak sehingga memerlukan energi yang lebih banyak
pula.
5. Kegiatan
tubuh, orang yang giat melakukan aktivitas lebih banyak membutuhkan energi.
Untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut tubuh perlu lebih banyak oksigen untuk
pernapasan seluler, dan tubuh lebih banyak memproduksi zat sisa.
~Beberapa
Gangguan Pernapasan Pada Manusia
Sistem pernapasan
manusia bisa mengalami gangguan dan kelainan yang disebabkan oleh infeksi
kuman, faktor bawaan, atau polusi udara. berikut ini adalah beberapa gangguan
dari sistem pernapasan manusia.
1. Influeza
(flu), disebabkan oleh virus yang menimbulkan radang pada selaput mukosa di
saluran pernapasan.
2. Asma,
gangguan pada rongga saluran pernapasan yang diakibatkan oleh berkontraksinya
otot polos pada trakea. Penyebabnya dapat berupa udara yang tercemar asap atau
debu, udara yang terlalu dingin, dan keadaan jiwa penderita (stress atau
tekanan emosi).
3. Tuberkulosis
(TBC), disebabkan karena bakteri Mycobacterium tuberculosa. Peradangan pada
dinding alveolus sehingga difusi O2 akan terganggu.
4. Bronkitis,
terjadi karena radang pada selaput lendir, trakea, dan saluran bronkia.
5. Penyempitan
dan penyumbatan saluran pernapasan akibat terjadinya pembengkakan kelenjar
limfe. Misalnya polip (di hidung) dan amandel (di tekak).
6. Faringitis,
infeksi pada faring oleh bakteri dan virus. Gejalanya adalah kerongkongan
terasa nyeri saat menelan.
7. Asifiksi,
kelainan atau gangguan dalam pengangkutan oksigen ke jaringan atau gangguan
penggunaan oksigen oleh jaringan. Penyebabnya dapat terletak di paru-paru,
pembuluh darah atau dalam jaringan tubuh. Misalnya seseorang yang tenggelam,
alveolusnya terisi air, orang-orang yang keracunan karbon monoksida dalam asam
sianida, dan lainnya. Keracunan karbon monoksida dan asam sianida terjadi
karena kedua zat ini memiliki afinitas terhadap hemoglobin lebih besar daripada
oksigen.
8. Penyakit
diphteri, misalnya diphteri tekak, tenggorokan, dan diphteri hidung. Penyakit
ini biasa menyerang saluran pernapasan anak bagian atas. Kuman peneybabnya Corynebacterium diphteriae. Kuman
diphteri tersebut mengeluarkan racun dan bila racun ini beredar bersama darah,
akan merusak selaput jantung.
9. Pneumonia
atau logenstelking, yaitu penyakit radang paru-paru yang disebabkan Diplococcus Pneumoniae.
10. Kanker paru-paru, biasa diderita oleh perokok
Pertanyaa saat kajian :
1. Apa yang berkontraksi pada proses pernapasan dada dan perut ? (Ikram)
2. Apakah volume udara pernapasan udara tetap atau dapat berubah ketika beraktifitas ? (Nurul)
3. Bagaimana kanker paru-paru dapat terjadi pada perokok ? (Suriani)
4. Apakah pernapasan melalui hidung dan mulut mekanismenya sama ? (Astuti)
5. Bagaimana volume udara pernapasan secara maksimal ? (Rismayanti)



